Reaktualisasi Nilai Tauhid Dalam NDP Bab II Sebagai Orientasi Etik Dan Ideologis Kader HMI Menghadapi Krisis Moral, Kekuasaan, Dan Gerakan

KABARMASA.COM, JAKARTA- Membaca NDP Bab II dengan jujur, saya justru merasa sedang ditegur. Bab ini tidak menawarkan jawaban instan, apalagi slogan perjuangan. Ia memaksa kita berhenti dan bertanya: sejauh apa tauhid benar-benar hadir dalam cara kita bersikap sebagai kader. Pertanyaan ini terasa sederhana, tapi sering dihindari karena jawabannya tidak selalu nyaman.
Selama ini tauhid kerap dipahami sebagai urusan keyakinan personal. Ia selesai di ruang ibadah dan forum kajian. Padahal dalam NDP, tauhid justru diletakkan sebagai fondasi cara manusia memandang hidup. Manusia yang bertauhid adalah manusia yang sadar posisi, sadar tanggung jawab, dan tidak kehilangan arah ketika berhadapan dengan realitas sosial yang rumit.

Namun pengalaman kaderisasi hari ini menunjukkan jarak yang cukup jauh antara nilai dan praktik. Aktivisme berjalan cepat, agenda silih berganti, forum terus dihadiri. Tetapi refleksi sering tertinggal. Tidak jarang kita lantang berbicara tentang perubahan, namun gamang ketika harus mengambil sikap yang berisiko. Di titik ini, tauhid terasa seperti konsep yang dihafal, bukan kesadaran yang dihidupi.

NDP Bab II sebenarnya memberi peringatan halus. Mengakui keesaan Tuhan berarti menolak segala bentuk penghambaan lain, termasuk pada kekuasaan, kenyamanan, dan kepentingan sesaat. Tauhid menuntut keberanian moral. Ia tidak selalu membuat kita aman, tetapi menjaga agar kita tidak kehilangan nurani.

Bagi kader HMI, tauhid seharusnya menjadi kompas, bukan hiasan identitas. Ia membimbing cara berpikir, menentukan keberpihakan, sekaligus menjadi batas ketika kita mulai tergoda berkompromi terlalu jauh. Tanpa tauhid yang hidup, kritik mudah berubah menjadi sekadar wacana, dan gerakan kehilangan makna pembebasannya.
NDP Bab II juga mengingatkan bahwa manusia adalah subjek sejarah. Artinya, kader tidak cukup hanya memahami keadaan. Ada tuntutan untuk hadir, mengambil posisi, dan siap menanggung konsekuensi. Diam dalam ketidakadilan bukan sikap netral, melainkan bentuk lain dari menyerahkan tanggung jawab.

Pada akhirnya, membaca NDP Bab II bukan soal memahami teks, tetapi bercermin. Sejauh mana tauhid benar-benar mempengaruhi cara kita bersikap hari ini. Sebab ketika tauhid hanya tinggal konsep, kader mungkin tetap bergerak, tetapi tidak lagi tahu ke mana dan untuk apa.
Dalam konteks ini, NDP Bab II juga bisa dibaca sebagai kritik halus terhadap kecenderungan kader yang terlalu sibuk mengejar peran, tetapi lupa merawat kesadaran. Menjadi kader bukan hanya soal hadir di forum atau menguasai wacana, melainkan tentang bagaimana nilai tauhid membentuk cara kita mengambil keputusan kecil sekalipun. Justru pada hal-hal sederhana itulah, konsistensi nilai sering diuji dan mudah tergelincir.

Pengalaman kader menunjukkan bahwa menjaga tauhid tetap hidup jauh lebih sulit daripada sekadar membicarakannya. Ia menuntut kejujuran pada diri sendiri, keberanian untuk berbeda, dan kesiapan menerima konsekuensi. Di sinilah NDP Bab II menjadi relevan, bukan sebagai teks yang menuntut kekaguman, tetapi sebagai cermin yang kerap memantulkan sisi diri yang tidak selalu ingin kita lihat.

Penulis: Rizky Kabalmay Kader HMI Jabodetabeka-Banten
Share:

No comments:

Post a Comment

Youtube Kabarmasa Media



Berita Terkini

Cari Berita

Label

Arsip Berita

Recent Posts