KABARMASA.COM, KEPULAUAN ROAU - Kota Batam, 13 Juni 2026 — Sejumlah mantan pimpinan organisasi mahasiswa dan pelajar di Provinsi Kepulauan Riau menggelar diskusi dan silaturahmi untuk bertukar gagasan mengenai kondisi Indonesia terkini serta tantangan kebangsaan ke depan.
Pertemuan tersebut dihadiri oleh Andre mantan Ketua Umum HMI Riau–Kepri, Husnul mantan Ketua Umum GMNI Kepri, Angga Ketua PC GMNI Batam, Tongku April mantan Sekretaris PKC PMII Riau–Kepri, Salafudin Zaenul Ardy, serta Muh. Dwi mantan Ketua Umum IPM Kepri.
Dalam suasana penuh keakraban dan semangat kebangsaan, para peserta membahas berbagai isu nasional mulai dari dinamika ekonomi, penguatan demokrasi, pembangunan sumber daya manusia, tantangan ketahanan pangan, hingga pentingnya menjaga persatuan di tengah perubahan global dan perkembangan teknologi.
Diskusi tersebut menegaskan bahwa perbedaan latar belakang organisasi bukan menjadi penghalang untuk membangun komunikasi dan kolaborasi dalam memberikan kontribusi positif bagi bangsa dan negara.
Pada kesempatan itu, Salafudin Zaenul Ardy atau di sapa akrab Ardy menyampaikan bahwa ruang dialog lintas organisasi dan lintas generasi penting untuk terus dijaga agar gagasan yang lahir tidak berhenti pada perdebatan, tetapi mampu menjadi kontribusi nyata di tengah masyarakat.
“Indonesia saat ini membutuhkan lebih banyak ruang kebersamaan dan pertukaran gagasan. Kita boleh berbeda latar organisasi, tetapi tujuan besarnya tetap sama, yaitu menjaga persatuan, memperkuat nilai kebangsaan, serta mendorong generasi muda agar tetap kritis, produktif, dan menghadirkan solusi bagi masyarakat. Mantan aktivis mahasiswa dan pelajar juga memiliki tanggung jawab moral untuk tetap hadir memberikan pemikiran yang konstruktif,” ujar Salafudin Zaenul Ardy.
Andri Fitri Yanto menekankan pentingnya posisi pemuda sebagai penggerak pembangunan daerah.
“Kekuatan pemuda Batam dan Kepulauan Riau sangat menunjang kemajuan daerah, khususnya Batam dan Kepri. Pemuda menjadi inti dari setiap pergerakan dan perubahan. Karena itu, ruang partisipasi, kolaborasi, dan penguatan kapasitas anak muda harus terus dibuka agar lahir gagasan serta inovasi yang mampu menjawab tantangan daerah maupun nasional,” ungkap Andri Fitri Yanto.
Angga menyoroti pentingnya menjaga semangat kritis dan kepedulian sosial dalam gerakan pemuda dan mahasiswa.
“Jika melihat sejarah, pemuda selalu menjadi titik awal lahirnya perubahan sosial, baik melalui gerakan kolektif maupun inisiatif mandiri. Saat ini, dalam konteks Indonesia khususnya Kepulauan Riau dan Kota Batam, perhatian terhadap persoalan ketidakadilan dan ketimpangan sosial perlu terus menjadi bagian dari agenda publik yang diperjuangkan secara demokratis dan konstitusional. Pemuda dan mahasiswa memiliki peran penting untuk tetap aktif menyampaikan gagasan, melakukan pengawasan sosial, dan menjaga keberpihakan terhadap kepentingan masyarakat. Karena itu, persatuan, ruang dialog, dan soliditas antarelemen pemuda perlu terus dijaga agar aspirasi masyarakat dapat disampaikan secara kuat dan bertanggung jawab,” ujar Angga.
Husnul Husin Mahubessy memberikan perhatian pada kondisi ekonomi yang dinilai masih menghadapi tantangan ketidakpastian dan membutuhkan pengawalan bersama dari masyarakat, khususnya generasi muda.
“Situasi ekonomi hari ini menghadirkan tantangan yang tidak sederhana karena masyarakat menghadapi dinamika yang berubah cepat dan membutuhkan kepastian arah kebijakan. Dalam kondisi seperti ini, pemuda tidak boleh hanya menjadi penonton. Pemuda perlu hadir sebagai kekuatan intelektual dan sosial yang ikut mengawal kebijakan-kebijakan strategis pemerintah agar benar-benar memberi manfaat nyata bagi masyarakat dan umat,” ujar Husnul.
Sementara itu, Tongku April menekankan pentingnya menjaga tradisi dialog dan peran organisasi sebagai ruang pembentukan kepemimpinan.
“Organisasi mahasiswa dan kepemudaan sejak dahulu bukan hanya tempat berhimpun, tetapi juga ruang belajar membangun gagasan, etika berdiskusi, dan kepemimpinan. Di tengah tantangan bangsa saat ini, pemuda perlu memperkuat budaya literasi, memperluas ruang musyawarah, serta menghadirkan kritik yang konstruktif agar setiap proses pembangunan tetap berjalan dengan melibatkan aspirasi masyarakat,” ujar Tongku April.
Menurutnya, kontribusi generasi muda akan lebih kuat apabila dibangun melalui kolaborasi lintas organisasi dan orientasi pada kepentingan publik.
Adapun Muh. Dwi Ahmadsyah menyoroti pentingnya menjaga keberlanjutan kaderisasi dan pendidikan karakter generasi muda.
“Pemuda dan pelajar merupakan fondasi masa depan bangsa. Karena itu, pembangunan sumber daya manusia harus menjadi perhatian bersama. Kita membutuhkan generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki integritas, kepedulian sosial, kemampuan beradaptasi, dan semangat untuk mengabdi kepada masyarakat. Ruang pendidikan dan organisasi harus terus menjadi tempat tumbuhnya nilai tersebut,” ujar Muh. Dwi.
Menurutnya, investasi terbesar bangsa bukan hanya pembangunan fisik, tetapi juga membangun kualitas manusia yang mampu menjawab tantangan zaman.
Para peserta sepakat bahwa perbedaan organisasi dan pendekatan gerakan tidak boleh menghilangkan tujuan bersama, yakni menjaga demokrasi, memperkuat partisipasi masyarakat, dan mendorong kebijakan publik yang berpihak kepada kesejahteraan rakyat.
Pertemuan ditutup dengan komitmen bersama untuk menjaga komunikasi, memperkuat jejaring lintas organisasi, serta membuka ruang diskusi yang lebih luas demi Indonesia yang maju, berkeadilan, dan tetap menjunjung nilai persatuan. (Tim/Red)
















.jpeg)
.jpeg)







.jpeg)





