Ketika Wawasan Nusantara Ditinggalkan, Persatuan Bangsa Dipertaruhkan

KABARMASA.COM, JAKARTA- Belakangan ini, rasa kebangsaan kita terasa makin tipis. Bukan karena Indonesia kekurangan simbol persatuan, tetapi karena nilai-nilai kebangsaan sering berhenti sebagai slogan. Di tengah arus globalisasi yang deras, krisis identitas nasional menjadi persoalan nyata. Banyak orang lebih sibuk mencari pengakuan global, sementara ikatan kebangsaan perlahan kehilangan maknanya.

Wawasan Nusantara sejatinya bukan konsep hafalan. Ia adalah cara pandang tentang bagaimana Indonesia dipahami sebagai satu kesatuan nasib, wilayah, dan cita-cita. Namun dalam praktik, Wawasan Nusantara kerap diperlakukan sebagai materi seremonial. Akibatnya, ketika muncul konflik sosial, polarisasi politik, atau ketimpangan antarwilayah, kita gagap membaca persoalan secara utuh.

Ancaman disintegrasi hari ini tidak selalu hadir dalam bentuk tuntutan memisahkan diri. Ia muncul lebih halus. Politik identitas yang mengeras, sikap eksklusif antar kelompok, serta pembangunan yang tidak merata pelan-pelan menggerus rasa memiliki terhadap bangsa ini. Tanpa Wawasan Nusantara yang hidup, perbedaan justru mudah dipelintir menjadi alasan perpecahan.

Revitalisasi Wawasan Nusantara berarti mengembalikannya sebagai kesadaran ideologis. Persatuan tidak cukup dirayakan dalam upacara, tetapi harus hadir dalam kebijakan publik dan keberpihakan pembangunan. Bagi generasi muda dan kader HMI, Wawasan Nusantara adalah tanggung jawab moral untuk menjaga Indonesia tetap utuh di tengah perubahan zaman.
Globalisasi tidak bisa dihindari. Namun bangsa yang kehilangan jati diri akan mudah terombang-ambing. Wawasan Nusantara menjadi penanda arah, agar keterbukaan pada dunia tidak berujung pada tercerabutnya akar keindonesiaan kita sendiri.

Penulis: A. Rizky Kabalmay 
(Kader HMI Jabodetabeka-Banten)
Share:

No comments:

Post a Comment

Youtube Kabarmasa Media



Berita Terkini

Cari Berita

Label

Recent Posts