![]() |
| Abduh Hanif Hakim, Mahasiswa Jurusan Administrasi Publik FISIP UNTIRTA |
KABARMASA.COM, SERANG, BANTEN-Pada awal 2026, rilis Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan kenaikan Nilai Tukar Petani (NTP) di Banten. Banyak pihak menilai hal ini sebagai tanda membaiknya kesejahteraan petani. Namun, indikator tersebut tidak dapat dibaca secara sederhana. NTP tidak sepenuhnya mencerminkan kondisi riil di lapangan. Pertanian sedang menghadapi tekanan struktural yang serius. Urbanisasi dan industrialisasi mengubah wajah pedesaan secara cepat. Perubahan ini memengaruhi pola produksi dan mata pencaharian petani. Karena itu, kenaikan NTP perlu dianalisis secara lebih kritis. Pertanyaannya bukan hanya naik atau tidak, tetapi bermakna atau tidak.(30/04/2026)
Mahasiswa Administrasi Publik, Abduh Hanif Hakim, Semester 6 FISIP UNTIRTA. Pria sederhana yang kerap dipanggil dengan nama Hanif ini menjelaskan bahwa "Secara makro, kenaikan NTP menunjukkan harga komoditas meningkat. Kenaikan ini lebih cepat dibandingkan biaya produksi petani. Artinya, secara perhitungan, pendapatan bersih tampak membaik."
Namun, indikator ini bersifat agregat dan tidak merata. Tidak semua petani merasakan dampak yang sama. NTP juga tidak menangkap perubahan struktur agraria. Misalnya, kepemilikan lahan dan akses produksi. Padahal faktor tersebut menentukan kesejahteraan nyata. Akibatnya, NTP bisa menampilkan gambaran yang bias." Katanya
Selanjutnya,Perkembangan industri di Serang, Cilegon, dan Tangerang sangat pesat. Ekspansi Kawasan Industri Modern Cikande menjadi salah satu contohnya. Kawasan ini terus berkembang dengan fasilitas baru. Pertumbuhan industri mendorong aktivitas ekonomi regional. Namun, dampaknya terhadap lahan pertanian cukup besar. Alih fungsi lahan terjadi secara masif dan berkelanjutan. Banyak sawah berubah menjadi kawasan industri dan logistik. Petani sering menjual lahan karena tekanan ekonomi. Hal ini mengurangi basis produksi pertanian secara signifikan.
Menurut Hanif, adanya Penyusutan lahan menciptakan paradoks dalam peningkatan NTP. Pendapatan terlihat meningkat, tetapi kapasitas produksi menurun. Petani kehilangan aset utama dalam jangka panjang. Skala lahan yang kecil menyulitkan efisiensi produksi. Penerapan teknologi juga menjadi lebih terbatas. Risiko gagal panen menjadi semakin tinggi. Ketergantungan pada musim dan harga meningkat. Tidak ada cadangan lahan untuk menutup kerugian. Akibatnya, stabilitas ekonomi petani menjadi rapuh.
Hanif menyayangkan bahwa, Dari sisi sosial, terjadi perubahan struktur tenaga kerja desa. Generasi muda cenderung meninggalkan sektor pertanian. Mereka beralih ke pekerjaan industri yang lebih stabil. Pendapatan di sektor industri dianggap lebih pasti. Hal ini menyebabkan regenerasi petani melemah. Pengetahuan agraris tidak lagi diwariskan secara optimal. Kelompok tani menjadi semakin kecil dan kurang aktif. Sebagian lahan bahkan mulai terbengkalai. Desa perlahan kehilangan identitas agrarisnya.
Hal menantang lainnya dia mengatakan adanya, Masalah lingkungan juga menjadi tantangan serius. Aktivitas industri berpotensi mencemari tanah dan air. Kualitas lingkungan sangat menentukan hasil pertanian. Kerusakan kecil dapat berdampak besar pada produksi. Petani harus menanggung risiko ekologis yang meningkat. Kepercayaan pasar terhadap produk lokal bisa menurun. Hal ini tidak tercermin dalam indikator NTP. Padahal dampaknya langsung dirasakan petani. Lingkungan menjadi faktor krusial dalam keberlanjutan.
Selanjutnya, Kondisi ini menunjukkan keterbatasan NTP sebagai indikator. NTP hanya mengukur rasio harga dan biaya produksi. Ia tidak mencerminkan keberlanjutan sistem pertanian. Faktor seperti lahan dan tenaga kerja tidak terukur. Begitu juga aspek sosial dan lingkungan. Padahal semua itu menentukan kesejahteraan petani. Analisis harus dilakukan secara lebih komprehensif. Tidak cukup hanya mengandalkan data statistik. Diperlukan pendekatan multidimensional dalam kebijakan.
Selain itu, Pemerintah daerah perlu menyeimbangkan pembangunan ekonomi. Industrialisasi harus berjalan bersama perlindungan pertanian. Pengendalian alih fungsi lahan menjadi sangat penting. Sawah produktif harus dipertahankan sebagai aset strategis. Insentif dapat diberikan kepada petani kecil. Infrastruktur seperti irigasi perlu diperkuat. Pengawasan kebijakan tata ruang harus diperketat. Tanpa regulasi kuat, konversi lahan akan terus terjadi. Kesenjangan wilayah agraris dan industri bisa melebar.
Hanif menegaskan "Pada akhirnya, pertanian tetap menjadi fondasi ketahanan pangan. Jika lahan terus menyusut, produksi akan menurun. Ketergantungan pada pasokan luar daerah meningkat" Tegasnya
Menurutnya, "Hal ini berisiko bagi stabilitas ekonomi daerah. Kenaikan NTP memang merupakan sinyal positif. Namun, sinyal ini belum tentu mencerminkan realitas. Kesejahteraan petani membutuhkan perlindungan struktural. Tanpa itu, NTP hanya menjadi angka statistik. Realitas petani tetap berada dalam kondisi rentan." Pungkasnya
RAR







.jpeg)


.jpg)
.jpeg)


.jpeg)















