KOMDIGI Bekerja Sama Dengan DPR RI ,”Kunci Anak Berpikir Kritis dan Berprestasi”.


KABARMASA.COM, JAKARTA – Kementerian Komunikasi dan Digital Republik Indonesia (KOMDIGI) bekerja sama dengan DPR RI menggelar Webinar bertema “Kunci Anak Berpikir Kritis dan Berprestasi ”, Kamis (29/10/2026).

Kegiatan dibuka dengan penampilan Tarian Sancang Gugat dari Jawa Barat,  dilanjutkan Menyanyikan Lagu Indonesia Raya, pembacaan doa, dan keynote speech oleh Dr. H. Sukamta, Anggota DPR RI, yang sekaligus meresmikan dimulainya webinar. Kegiatan ini diselenggarakan melalui Zoom Meeting dan diikuti sekitar 204 peserta.

Dalam sesi pertama, Dr. H. Sukamta menjelaskan

Kita sekarang ini sudah memasuki atau sudah berada dalam era digital di masa disrupsi digital sudah menjadi kehidupan kita bersama, secara hybrid mungkin dunia digital ini lebih banyak dibanding dunia kehidupan nyata.

Dunia digital ini merupakan dunia yang penuh potensi serta penuh manfaat. 

“Teknologi yang dihadirkan untuk membantu kehidupan kita, dan cara kita hidup didunia digital itu betul-betul mendapatkan manfaat dengan berlipat-lipat baik secara ekonomis,  sosial,  ilmu pengetahuan,  manajemen pemerintaan dll," ujarnya 

Revolusi industri keempat sudah berubah naik menjadi revolusi industri ke lima yaitu munculnya AI atau kecerdasan peradaban. 

Yang harus kita semua ketahui yaitu munculnya inovasi-inovasi baru ini menjadi tantangan yang sangat luar biasa bukan hanya bagi kita, tapi bagi seluruh manusia. 

Karena ternyata pada dasarnya setiap muncul revolusi industri selalu menghasilkan sampah peradaban." Ucapnya 

“Yang dikatakan sampah peradaban digital yaitu orang yang menghabiskan waktu untuk hiburan hanya dengan scrolling di medsos. Hal ini dapat berefek menurunnya produktifitas seseorang, selain itu menurunnya kecerdasan, Mudah lupa dll”.

Dr. H. Sukamta juga menjelaskan bahwa anak-anak yang cenderung lebih banyak hidup didunia digital dari pada dunia nyata itu membuat hiraki sosialnya hilang.

Anak yang hidup didunia digital kebanyakan memiliki norma sosial yang kurang, kenapa ? Karena dalam dunia digital tidak ada guru, tidak ada orang tua, hal itu membuat anak tidak bisa membedakan bagaimana bersikap kepada yang lebih tua, dan sebayanya. Selain itu semakin banyak menghabiskan waktu didunia digital semakin mudah juga beresiko terkena cyberbulliying,  Isolasi soasial,  dan kecanduan digital.

Pada sesi diskusi kedua Dr. Diyah Puspitarini selaku Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia menyampaikan

“Bahwa terdapat 80,66% penetrasi internet di Indonesia tahun 2025 sebanyak 229,4 juta jiwa, yang mana 79,73% itu dihuni oleh generasi Alpha (Usia< 12 tahun) sedangkan 74,34% anak 7-17 tahun pengunaan internet (2022) naik dari 40,25 % di 2018”.

Hal ini menunjukkan bahwa banyak sekali pengguna internet yang isinya anak dibawah umur.

Beberapa resiko yang mungkin bisa dialami anak dalam ancaman ranah digital :

1. Kekerasan berbasis online yang 

2. pornografi seperti paparan dan eksploitasi

3. child grooming seperti bujuk rayu predator

4. judi online

5. radikalisme online

6. hoax dan provokasi 

7. eksploitasi dan tppo serta

8. cyber bullying

Dilanjutkan sesi ketiga Tri Haryanto menjelaskan 

Selain terdapat resiko yang mungkin bisa dialami setiap pengguna teknologi digital, hal ini tidak menutup kemungkinan bahwa memang terdapat manfaat yang luar bisa dalam dunia digital ini.

Literasi digital membuka peluang belajar,  berkarya,  dan berkolaborasi tanpa batas untuk meraih prestasi di masa depan. 

Contohnya yaitu : 

1. Riset untuk mencari sumber terpercaya, perpustakaan digital, jurnal serta data resmi 

2. Bahasa dengan canggihnya dunia digital kita dapat mudah belajar bahasa asing melalui video, kamus digital dll.

3. Kreativitas banyak generasi muda yang memanfaatkan dunia digital untuk Kreativitas dan berkarya

4. Kolaborasi Dunia digital ini bisa kita gunakan untuk proyek kelompok dan dokumen bersama secara daring(Tim/Red)

Share:

No comments:

Post a Comment

Youtube Kabarmasa Media



Berita Terkini

Cari Berita

Label

Arsip Berita

Recent Posts