Eskalasi Iran & Peta Kedaulatan Indonesia

KABARMASA.COM, JAKARTA- Ketika Geopolitik Mengguncang Lanskap Ekonomi Nasional Konflik Iran dan kekuatan Barat bukan sekadar peristiwa regional, melainkan dinamika global yang membentuk ulang lanskap ekonomi dunia. Dalam sistem yang saling terhubung, setiap eskalasi militer ibarat gempa geopolitik yang getarannya menjalar hingga ke pasar domestik. (04/03/2026).

Rizky Kabalmay Ketua Bidang Demokrasi Dan Politik HMI Cabang Jakarta Selatan menyampaikan bahwa "Bagi Indonesia yang masih bergantung pada impor energi dari Timur Tengah, kenaikan harga minyak adalah disrupsi struktural: memicu tekanan inflasi, mengganggu stabilitas rupiah, serta membebani ruang fiskal negara. Dengan demikian, konflik ini bukan hanya isu luar negeri, tetapi variabel eksternal yang mempengaruhi tata kelola ekonomi nasional". Ujarnya 

Selin itu, Diplomasi sebagai Arsitektur Sikap Prinsip “Bebas Aktif” seharusnya menjadi desain dasar arsitektur diplomasi Indonesia. Bebas berarti tidak terkooptasi oleh blok kekuatan mana pun; aktif berarti berkontribusi nyata dalam membangun perdamaian.

Namun arsitektur tanpa fondasi kedaulatan hanya akan menjadi façade politik. Sikap luar negeri harus dirancang dengan kalkulasi strategis, bukan sekadar simbol partisipasi global.

Rekonstruksi Posisi dalam BoP
Perdebatan mengenai keterlibatan Indonesia dalam Board of Peace (BoP) seharusnya dipahami sebagai momentum rekonstruksi, bukan sekadar reaksi situasional. Dalam dinamika geopolitik yang terus berubah, setiap forum internasional perlu dievaluasi berdasarkan efektivitas, konsistensi prinsip, dan kontribusinya terhadap kepentingan nasional.

Jika BoP tidak berfungsi sebagai instrumen nyata penyelesaian konflik dan lebih menyerupai panggung legitimasi kekuatan besar, maka rekonstruksi posisi menjadi keniscayaan. Partisipasi global harus memperluas ruang tawar Indonesia, bukan mereduksi otonomi kebijakan. Rekonstruksi bukan berarti menjauh dari diplomasi, melainkan memastikan bahwa arsitektur keterlibatan internasional tetap berdiri di atas fondasi kedaulatan.

"Dalam geopolitik global, tidak ada ruang yang netral sepenuhnya. Setiap negara sedang dipetakan dalam konfigurasi kekuatan dunia. Pertanyaannya: Apakah Indonesia ingin menjadi objek dalam peta kekuatan global, atau arsitek bagi kedaulatannya sendiri? Karena dalam tata dunia yang terus berubah, yang tidak merancang arah akan diarahkan oleh kepentingan orang lain" pungkasnya.
Share:

No comments:

Post a Comment

Youtube Kabarmasa Media



Berita Terkini

Cari Berita

Label

Recent Posts