Agama dan sains sejatinya tidak berdiri sebagai dua kutub yang saling berlawanan, melainkan dua cara manusia membaca realitas yang sama. Dalam konteks penentuan awal bulan Hijriyah, keduanya justru bertemu secara langsung. Agama memberikan landasan normatif melalui tradisi rukyat melihat hilal sebagai tanda masuknya bulan baru. Sementara sains menghadirkan hisab perhitungan astronomi yang mampu memprediksi posisi bulan dengan tingkat akurasi yang sangat tinggi.
Di titik ini, yang sering kali terjadi bukan pertentangan kebenaran, melainkan perbedaan pendekatan dalam memahami kebenaran itu sendiri. Rukyat menekankan pengalaman empiris langsung sebagaimana dipraktikkan sejak masa awal Islam. Hisab, di sisi lain, merupakan hasil perkembangan ilmu pengetahuan yang terus bergerak maju, memanfaatkan teknologi dan perhitungan matematis.
Keduanya memiliki legitimasi dalam ruangnya masing-masing. Sains bekerja dengan data, presisi, dan prediksi. Agama bekerja dengan tradisi, otoritas, dan pemaknaan terhadap teks. Ketika keduanya bertemu dalam praktik sosial, seperti penentuan 1 Syawal, maka yang muncul adalah dinamika bukan semata-mata perbedaan, tetapi juga ruang dialog antara keyakinan dan pengetahuan. Dinamika ini terasa lebih kuat saat penetapan 1 Syawal dibandingkan 1 Ramadhan. Awal puasa cenderung lebih tenang, lebih mudah diterima sebagai variasi. Namun Idul Fitri memiliki dimensi sosial yang jauh lebih luas: ia bukan hanya penanda ibadah, tetapi juga momentum kebersamaan, silaturahmi, dan tradisi.
Tidak heran jika setiap menjelang penetapan 1 Syawal, ruang-ruang percakapan menjadi lebih hidup. Pertanyaan sederhana seperti “besok lebaran atau belum” membawa implikasi yang lebih besar. Di rumah-rumah, pilihan pun diambil: ada yang sudah menyiapkan hidangan khas lebih awal, ada pula yang menunggu kepastian. Dalam sejarahnya, situasi ini bahkan melahirkan istilah seperti “lebaran opor basi” pada tahun 2011 sebuah ekspresi ringan yang sesungguhnya mencerminkan pertemuan antara perbedaan keyakinan dan realitas sosial.
Namun, jika ditarik lebih dalam, fenomena ini menunjukkan satu hal penting: agama dan sains tidak selalu harus disatukan dalam satu hasil yang sama, tetapi bisa berjalan berdampingan dalam satu masyarakat yang sama. Perbedaan hasil bukan berarti kegagalan, melainkan konsekuensi dari metode yang berbeda.
Di sinilah kearifan menjadi kunci. Bahwa masyarakat tidak hanya dituntut untuk memahami metode, tetapi juga untuk menjaga sikap. Menghargai mereka yang berpegang pada rukyat, sekaligus menghormati mereka yang menggunakan hisab. Sebab pada akhirnya, keduanya berangkat dari niat yang sama: menjalankan ajaran dengan sebaik-baiknya.
Lebaran, dalam makna yang lebih dalam, bukan hanya tentang keseragaman waktu, tetapi tentang keluasan hati. Tentang bagaimana agama dan sains, tradisi dan modernitas, dapat hidup berdampingan tanpa saling menegasikan.
Maka, perbedaan dalam penetapan 1 Syawal seharusnya tidak menjadi sumber jarak, melainkan ruang untuk memperkuat nilai saling menghargai. Karena di atas segala perbedaan metode dan hasil, ada satu nilai yang harus tetap dijaga: persaudaraan.
Selamat merayakan Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal.
Mohon maaf lahir dan batin.
Penulis: Redza Sutiara Akbar, M.Pd






